PESAN
CINTA TIGA PENYAIR
DALAM “RENDEZVOUS DI MUARA KASIH”
Oleh: Herti Gustina
Judul buku : Rendezvous di Muara Kasih
Penerbit : Bengkel
Publisher, 2015: 188hlm-xvi
Menyelami
sebuah karya sastra acapkali mengundang sensasi yang menggugah jiwa. Di
dalamnya ada berjuta rasa yang tertuang lewat kata-kata penuh makna. Tak hanya
sekedar kata penuh makna, sastra menghadirkan estetika yang seringkali membuat
pembaca terpesona bahkan mengaca pada setiap sisi kehidupannya. Dulce et Utile merupakan keseluruhan
dari bentuk sastra, bermanfaat dan menghibur. Dengan sastra seseorang dapat
menuangkan segala ekspresi, emosi, dan esensi dari pemikirannya. Dengan sastra,
seorang pembaca dapat berkaca di muara kata, melahirkan sebuah intuisi untuk
berhijrah di kedalaman cahaya makna. Dan variasi kata yang berestetika
memancarkan pesona yang membuat hati bergelora.
Di kedalaman
makna sastra, ada puisi yang akrab menghadirkan gejolak jiwa. Tak sekedar
gejolak jiwa atau curhatan hati semata, puisi selalu berkembang seirama derap
langkah penyair yang selalu menggeluti kata di kedalaman makna. Dengan
menyelami dan memahami puisi, penikmat baca dapat mengalami katarsis, bukan
sekedar narsis atau hanya bersikap kritis. Seseorang akan dibawa ke dalam
pendaran cahaya kemudian berhijrah dalam pencerahan nurani di setiap barisan
kata.
Menyelami
puisi ibarat mengarungi aliran sungai hingga sampai ke muara penuh kasih,
bertemu dan bercumbu bersama pesan-pesan cinta dari Sang Kekasih. Inilah esensi
dari “Rendezvous di Muara Kasih”. Terlahir dari pesan cinta tiga penyair
yang saling kasih. Kemudian dihadiahkan kepada pembaca untuk menyematkan cinta
DAM terhadap puisi hingga pada angka ke-56. Di dalam buku ini tiga penyair
saling silang merajut kasih, mencipta aksara yang bernilai estetika dan penuh
makna. Dimas Arika Mihardja (DAM), Yosy Kasih Azalia (YKA), dan Rahma Bachdim
(RB) menghadirkan sebuah pertemuan kata dalam muara kasih (disebut: buku Rendezvous
di Muara Kasih).
Mengarungi
arum jeram kehidupan terkadang membawa kita ke sebuah muara penuh kasih.
Begitulah yang seringkali dilakukan oleh seorang penyair, membawa pembaca ke
sebuah pertemuan cinta bersama-Nya. Kegelisahan terhadap kehidupan
membangkitkan nurani untuk menuangkan serentetan kata-kata yang mengaliri dunia
masa kini. Inilah yang dirajut oleh DAM, YKA, dan RB dalam setiap kata-kata
yang mengalir di buku ini. Tiga penyair ini ibarat parabola yang memancarkan
irama kehidupan di setiap kata yang dituangkan ke dalam puisi-puisinya. Lewat
pancaran sinyal yang mereka berikan, penikmat baca serasa ikut dalam aliran sungai
hingga sampai ke sebuah rendezvous di muara kasih.
Rendezvous merupakan sebuah kata yang ketika kita mendengarnya terasa efek
unik, pelik, dan magik yang merangsang pikiran untuk mencari makna kata
tersebut. Dalam kata rendezvous tersimpan makna yang sangat dalam. Setiap orang
pasti pernah merindukan dan merasakan sensasi sebuah rendezvous. Sensasi
inilah yang dihadirkan oleh tiga penyair
dalam mengaliri makna di muara kasih.
Rendezvous
merupakan kata yang berasal dari bahasa Perancis kemudian diserap
ke dalam bahasa Inggris yang artinya perjumpaan atau pertemuan dengan teman
lama, kekasih lama, atau kenangan lama. Di dalam buku ini tiga penyair mengajak
pembaca untuk beranjak menuju muara penuh kasih dalam sebuah rendezvous.
Pembaca dibawa ke dalam sebuah pertemuan dengan-Nya dan dengan sebuah hakikat
kehidupan yang hakiki.
Seseorang
mungkin pernah duduk bersama di sebuah kursi antik, terbuat dari kayu yang
dicat putih dihiasi bunga-bunga. Di dalamnya terkisah hakikat cinta yang indah
dan suci. Di rindang pohon yang daun-daunnya hijau menyejukkan, bercengkrama
bersama saling cerita mengisahkan kisah kasih. Inilah esensi dari sampul buku
ini yang menggambarkan kesucian cinta dalam sebuah pertemuan yang menyejukkan
jiwa.
Mengarungi
lembar demi lembar halaman buku ini, pembaca seakan diundang dalam rendezvous
dengan-Nya, mereka, dan hakikat kehidupan. Kehidupan manusia seumpama aliran
sungai yang mengalir menuju muara. Dalam aliran tersebut, adakalanya sebuah
benda ikut mengalir bersama. Benda tersebut bisa jadi akan menghiasi aliran
sungai atau bisa juga menjadi kotoran yang mengotori jernihnya sungai. Hiasan
ataupun kotoran adalah hal yang pasti akan menyinggahi kehidupan. Adakalanya
manusia lupa bahwa di ujung perjalanan ada Dia yang sedang menunggu, hingga
manusia terjerumus arus, melesat sampai tersesat di pusaran deras. Inilah yang menjadi
kegelisahan tiga penyair yang mereka tuangkan ke dalam muara kasih.
Dalam
perjalanan awal mengarungi aliran menuju muara, DAM mengisahkan kerinduan, kegairahan,
dan kegelisahan dalam 50 puisinya. Di dalamnya sebuah kerinduan akan rendezvous
bersama-Nya hadir untuk mengingatkan bahwa hakikat cinta yang sesungguhnya ada
pada-Nya yang penuh kasih. Kegelisahan akan kehidupan membuatnya ingin
merangkul dan mengadu dalam simpuh kepada-Nya. Dalam kegairahan yang menyalak,
DAM bercerita tentang sebuah pertemuan yang indah dalam Rendezvous di Muara
Kasih. Tidak hanya kepada-Nya, DAM juga mengisahkan pertemuan bersama mereka
yang penuh kasih yang hadir bersama mengarungi larung rindu. Semua syarat dan
isyarat kehidupan hadir di setiap bait puisi yang dihadirkan oleh DAM.
Di aliran selanjutnya Ra (RB) hadir melanjutkan kisah kasih. Di 49
puisi yang menemani pembaca mengarungi halaman demi halaman buku ini, Ra hadir
bersama sejuta variasi kehidupan. Hal ini menyadarkan kita bahwa hidup itu
bukan hanya ada suka, tetapi duka juga ikut mengikuti aliran kehidupan. Namun,
suka ataupun duka, ada cinta oleh Sang Kekasih yang selalu menyemai aksara di
tiap kata-katanya. Seperti yang diungkapkan Ra dalam puisinya:
MENCUBIT BAHAGIA
Tuhan, kebahagiaan
ini kuteriakkan ke mana?
Indahnya jawaban-Mu
Nopember 2014
Tuhan
selalu menjawab setiap suka dan duka dalam aksara-Nya (Alquran) hingga sampai
pada rendezvous terakhir manusia. Setiap aliran kehidupan yang dilalui,
kebahagiaan adalah kasih dari-Nya, begitupun kemelut kehidupan adalah sebuah
tantangan untuk menggapai sebuah pertemuan yang indah di muara kasih.
Di
aliran terakhir menuju muara kasih, YKA menghadirkan kerinduan dan sebuah cinta
abadi. Sebuah cinta abadi akan menghadirkan kerinduan yang mendalam. Sebuah
kerinduan mengharapkan sebuah pertemuan, maka obat mujarab bagi sebuah
kerinduan adalah rendezvous di muara kasih.
Dalam
50 puisinya, YKA meluapkan kerinduannya dalam syair hati yang ia simpan di
galeri rasa. Semua cerita tertuang indah dalam balutan aksara. Dan puisinya
mengakhiri tafakur cinta di buku Rendezvous di Muara Kasih. Kisah
kasihnya terangkum dalam kerinduan-kerinduan akan sesosok-Nya dan semua yang
ada di kehidupan.
Mengakhiri
rendezvous bersama tiga penyair penuh kasih ini, memberikan bekal kepada
kita bahwa kesucian cinta ada pada-Nya. Dalam setiap kegelisahan, Dialah
jawaban atas semuanya, dan kerinduan itu akan selalu ada pada-Nya. DAM, RB, dan
YKA adalah tiga penyair yang menjadi parabola agar tersalurnya sinyal-sinyal
kehidupan kepada pembaca. Mereka hadir bersama aksara-aksara yang tersusun
dalam sebuah karya sastra berupa puisi. Puisi mereka dapat memuasi dahaga
penikmat baca dalam berkaca di muara kasih.
Aliran kehidupan akan terus mengalir deras, seumpama riak air yang
di atasnya tampak tenang, namun di dasarnya ada arus deras yang siap
menghanyutkan. Namun, sebuah rendezvous akan hadir di muara kasih selagi
nafas selalu mengingat-Nya. Muaranya akan terus tenang bersama puisi yang siap
menghadirkan dulce et utile. Akhirnya, pesan cinta tiga penyair akan
menemani pembaca dalam mengarungi aliran menuju Rendezvous di Muara
Kasih.
Jambi, 16 April
2015
