Minggu, 07 Juni 2015

Pesan Cinta Tiga Penyair dalam "Renezvous di Muara Kasih"



PESAN CINTA TIGA PENYAIR
DALAM “RENDEZVOUS DI MUARA KASIH”
Oleh: Herti Gustina

Judul buku      : Rendezvous di Muara Kasih
Penerbit           : Bengkel Publisher, 2015: 188hlm-xvi

Menyelami sebuah karya sastra acapkali mengundang sensasi yang menggugah jiwa. Di dalamnya ada berjuta rasa yang tertuang lewat kata-kata penuh makna. Tak hanya sekedar kata penuh makna, sastra menghadirkan estetika yang seringkali membuat pembaca terpesona bahkan mengaca pada setiap sisi kehidupannya.  Dulce et Utile merupakan keseluruhan dari bentuk sastra, bermanfaat dan menghibur. Dengan sastra seseorang dapat menuangkan segala ekspresi, emosi, dan esensi dari pemikirannya. Dengan sastra, seorang pembaca dapat berkaca di muara kata, melahirkan sebuah intuisi untuk berhijrah di kedalaman cahaya makna. Dan variasi kata yang berestetika memancarkan pesona yang membuat hati bergelora.
 Di kedalaman makna sastra, ada puisi yang akrab menghadirkan gejolak jiwa. Tak sekedar gejolak jiwa atau curhatan hati semata, puisi selalu berkembang seirama derap langkah penyair yang selalu menggeluti kata di kedalaman makna. Dengan menyelami dan memahami puisi, penikmat baca dapat mengalami katarsis, bukan sekedar narsis atau hanya bersikap kritis. Seseorang akan dibawa ke dalam pendaran cahaya kemudian berhijrah dalam pencerahan nurani di setiap barisan kata.
Menyelami puisi ibarat mengarungi aliran sungai hingga sampai ke muara penuh kasih, bertemu dan bercumbu bersama pesan-pesan cinta dari Sang Kekasih. Inilah esensi dari “Rendezvous di Muara Kasih”. Terlahir dari pesan cinta tiga penyair yang saling kasih. Kemudian dihadiahkan kepada pembaca untuk menyematkan cinta DAM terhadap puisi hingga pada angka ke-56. Di dalam buku ini tiga penyair saling silang merajut kasih, mencipta aksara yang bernilai estetika dan penuh makna. Dimas Arika Mihardja (DAM), Yosy Kasih Azalia (YKA), dan Rahma Bachdim (RB) menghadirkan sebuah pertemuan kata dalam muara kasih (disebut: buku Rendezvous di Muara Kasih).
Mengarungi arum jeram kehidupan terkadang membawa kita ke sebuah muara penuh kasih. Begitulah yang seringkali dilakukan oleh seorang penyair, membawa pembaca ke sebuah pertemuan cinta bersama-Nya. Kegelisahan terhadap kehidupan membangkitkan nurani untuk menuangkan serentetan kata-kata yang mengaliri dunia masa kini. Inilah yang dirajut oleh DAM, YKA, dan RB dalam setiap kata-kata yang mengalir di buku ini. Tiga penyair ini ibarat parabola yang memancarkan irama kehidupan di setiap kata yang dituangkan ke dalam puisi-puisinya. Lewat pancaran sinyal yang mereka berikan, penikmat baca serasa ikut dalam aliran sungai hingga sampai ke sebuah rendezvous di muara kasih.
Rendezvous merupakan sebuah kata yang ketika kita mendengarnya terasa efek unik, pelik, dan magik yang merangsang pikiran untuk mencari makna kata tersebut. Dalam kata rendezvous tersimpan makna yang sangat dalam. Setiap orang pasti pernah merindukan dan merasakan sensasi sebuah rendezvous. Sensasi inilah yang dihadirkan oleh  tiga penyair dalam mengaliri makna di muara kasih.
Rendezvous merupakan kata yang berasal dari bahasa Perancis kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris yang artinya perjumpaan atau pertemuan dengan teman lama, kekasih lama, atau kenangan lama. Di dalam buku ini tiga penyair mengajak pembaca untuk beranjak menuju muara penuh kasih dalam sebuah rendezvous. Pembaca dibawa ke dalam sebuah pertemuan dengan-Nya dan dengan sebuah hakikat kehidupan yang hakiki.
Seseorang mungkin pernah duduk bersama di sebuah kursi antik, terbuat dari kayu yang dicat putih dihiasi bunga-bunga. Di dalamnya terkisah hakikat cinta yang indah dan suci. Di rindang pohon yang daun-daunnya hijau menyejukkan, bercengkrama bersama saling cerita mengisahkan kisah kasih. Inilah esensi dari sampul buku ini yang menggambarkan kesucian cinta dalam sebuah pertemuan yang menyejukkan jiwa.
Mengarungi lembar demi lembar halaman buku ini, pembaca seakan diundang dalam rendezvous dengan-Nya, mereka, dan hakikat kehidupan. Kehidupan manusia seumpama aliran sungai yang mengalir menuju muara. Dalam aliran tersebut, adakalanya sebuah benda ikut mengalir bersama. Benda tersebut bisa jadi akan menghiasi aliran sungai atau bisa juga menjadi kotoran yang mengotori jernihnya sungai. Hiasan ataupun kotoran adalah hal yang pasti akan menyinggahi kehidupan. Adakalanya manusia lupa bahwa di ujung perjalanan ada Dia yang sedang menunggu, hingga manusia terjerumus arus, melesat sampai tersesat di pusaran deras. Inilah yang menjadi kegelisahan tiga penyair yang mereka tuangkan ke dalam muara kasih.
Dalam perjalanan awal mengarungi aliran menuju muara, DAM mengisahkan kerinduan, kegairahan, dan kegelisahan dalam 50 puisinya. Di dalamnya sebuah kerinduan akan rendezvous bersama-Nya hadir untuk mengingatkan bahwa hakikat cinta yang sesungguhnya ada pada-Nya yang penuh kasih. Kegelisahan akan kehidupan membuatnya ingin merangkul dan mengadu dalam simpuh kepada-Nya. Dalam kegairahan yang menyalak, DAM bercerita tentang sebuah pertemuan yang indah dalam Rendezvous di Muara Kasih. Tidak hanya kepada-Nya, DAM juga mengisahkan pertemuan bersama mereka yang penuh kasih yang hadir bersama mengarungi larung rindu. Semua syarat dan isyarat kehidupan hadir di setiap bait puisi yang dihadirkan oleh DAM.
Di aliran selanjutnya Ra (RB) hadir melanjutkan kisah kasih. Di 49 puisi yang menemani pembaca mengarungi halaman demi halaman buku ini, Ra hadir bersama sejuta variasi kehidupan. Hal ini menyadarkan kita bahwa hidup itu bukan hanya ada suka, tetapi duka juga ikut mengikuti aliran kehidupan. Namun, suka ataupun duka, ada cinta oleh Sang Kekasih yang selalu menyemai aksara di tiap kata-katanya. Seperti yang diungkapkan Ra dalam puisinya:

MENCUBIT BAHAGIA
Tuhan, kebahagiaan ini kuteriakkan ke mana?
Indahnya jawaban-Mu
Nopember 2014

Tuhan selalu menjawab setiap suka dan duka dalam aksara-Nya (Alquran) hingga sampai pada rendezvous terakhir manusia. Setiap aliran kehidupan yang dilalui, kebahagiaan adalah kasih dari-Nya, begitupun kemelut kehidupan adalah sebuah tantangan untuk menggapai sebuah pertemuan yang indah di muara kasih.
Di aliran terakhir menuju muara kasih, YKA menghadirkan kerinduan dan sebuah cinta abadi. Sebuah cinta abadi akan menghadirkan kerinduan yang mendalam. Sebuah kerinduan mengharapkan sebuah pertemuan, maka obat mujarab bagi sebuah kerinduan adalah rendezvous di muara kasih.
Dalam 50 puisinya, YKA meluapkan kerinduannya dalam syair hati yang ia simpan di galeri rasa. Semua cerita tertuang indah dalam balutan aksara. Dan puisinya mengakhiri tafakur cinta di buku Rendezvous di Muara Kasih. Kisah kasihnya terangkum dalam kerinduan-kerinduan akan sesosok-Nya dan semua yang ada di kehidupan.
Mengakhiri rendezvous bersama tiga penyair penuh kasih ini, memberikan bekal kepada kita bahwa kesucian cinta ada pada-Nya. Dalam setiap kegelisahan, Dialah jawaban atas semuanya, dan kerinduan itu akan selalu ada pada-Nya. DAM, RB, dan YKA adalah tiga penyair yang menjadi parabola agar tersalurnya sinyal-sinyal kehidupan kepada pembaca. Mereka hadir bersama aksara-aksara yang tersusun dalam sebuah karya sastra berupa puisi. Puisi mereka dapat memuasi dahaga penikmat baca dalam berkaca di muara kasih.
Aliran kehidupan akan terus mengalir deras, seumpama riak air yang di atasnya tampak tenang, namun di dasarnya ada arus deras yang siap menghanyutkan. Namun, sebuah rendezvous akan hadir di muara kasih selagi nafas selalu mengingat-Nya. Muaranya akan terus tenang bersama puisi yang siap menghadirkan dulce et utile. Akhirnya, pesan cinta tiga penyair akan menemani pembaca dalam mengarungi aliran menuju Rendezvous di Muara Kasih.

Jambi, 16 April 2015